Museum Kota
Museum Kota
ada yang lenyap dalam kisah lama yang sudah tidak terbaca
di mana perginya rumah ibu praja
tempat mulainya jajaran kerukunan para tetangga
sementara di pusaran kota simpang empat jalan raya
di situ tampak tembok-tembok berlumut terbaca kusam
di antara jajaran rumah-rumah embun menyapa
dalam kristal-kristal tajam menyulang
sujadh jadi rimbakah hutan–hutan beton
dengan cakar besinya yang angkuh
memadati jajaran kota menghitung atap-atapnya
bagai nurani yang ditinggal matahari
seperti masa silam, nisan meninggal sejuta cermin kusam
dibalut kabut dari simpang siur kendaraan-kendaraan
beringas melibas bangunan-bangunan tua
semua suka perubahan dan pembangunan
lalu berontakkah kita jika musnah replika-replika tua
sementara orang-orang menghimpun pertanyaan demi pertanyaaan
yang tak pernah menyatu pada muara yang digali nenek moyangnya
kematian sering terbit kembali bagai cerita hati
yang menawarkan kehidupan
betapa pentingnya menghargai dekor dekor kota tua
jika tak ingin anak anak kehilangan bapaknya
yang pernah membuka jalan dan menimbun harta bagi anak cucunya
apakah ada yang menangis ketika kota hancur ditimbun kebodohan
tak terbaca masa silam, yang hada hanya pusat perbelanjaan
kota merana kehilangan wajahnya
kota menderita kehilangan potretnya
nenek pun gagal bercerita pada cucunya
stasiun besar tegal, 2005
Tarian Topeng Jalanan
lelaki berlari mencari pijak sendiri
ditinggal harapan ditekan suara bersahutan
di dadanya berkecamuk dalam layar pagi
mengais-ngais roti sisa kaum politisi
gagal menghitung arah angin
yang tak lelah di pusaran tahun
dibentur-bentur kebutuhan yang melambung
nuranipun pergi meninggalkan elegi suci
di kota tua yang sepi orang-orang bersembunyi
di balik puisi duniawi sembari menjual janji-janji basi
dalam diampun kata-kata berlompatan
mencari jejak bijak sambil memainkan tarian topeng jalanan
dalam irama kembang api
di siang hari melengking gema suara kecapi
antara senja dan dini hari
matahari enggan menyahut dalam kabut
ketika para badut saling berebut
roti dana negeri dalam agenda raja-raja kota
ini sidang apa tarik tambang
yang bisa dikompromikan
mimbar penyair, 2005
Membaca Nafas Chairil
jalanan bertabur kerikil
utarakan tabir, nafas-nafas perburuan
menggenang terasa anyir dihirupnya
aroma busukpun terusung pada sungai
yang dirawat bermilyar rupiah tapi tak bebas dari limbah
siapa yang menawarkan pengarungan rahasia
dalam rapat rapat gelap memuntahkan lumpur hitam
serupa orasi yang sama indahnya
dengan tawar nemawar barang pada pasar pasar fiktif naif
begitulah nafas nafas Chairil terbaca menggigil
dilanda bencana yang tak terbaca berita
menjadi komoditi politik antara subsidi dan kosmetik
orang orang bengong menonton genangan limbah
di sungai kebanggaan orang orang kota
menghanyutkan slogan slogan reformasi
yang dikibarkan 6 tahun yang lalu
dalam pandangan lusuh berlepotan limbah logam
yang hilang harumnya
entah matahari mana memanggangnya
termakan jani di meja makan sendiri
chairil answer
sma ikhsaniyah, 2005
