TIGA JAM BICARA

•24 Desember 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

dari kedipan lentik bulu matamu
sekejap saja percakapanpun mengalir
penuhlah gelas,tiga jam bicara tak satupun lirik lagu mengena
ternyata cuma ada di lintasan trotoar, lagu lagu itu berkibar

sepipun pecah berkeping keping, mencari harmoni kesadaran
antara ada tiada, tanpa catatan dan air mata
kejujuran hanya milik ibu bagai dongeng menjelang tidur
sepanjang malam hanya ada bayangan
semua jadi hitam semua jadi kelam
hanya ibu setia mengantar
tanpa terasa pagi tiba
sarapan sudah tersedia

tegal, 22 Desember 2008

KENDATI

•24 Desember 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

KENDATI
bagi: Jelita LH

kendati malam lewat begitu cepat
telah kau selipkan selintas cerita
tentang makna pertemuan selalu mengguratkan sutra
dengan serat serat sepi bukan lagi bermain hati yang cemerlang
lantaran lengan dan paha tak pernah dimaknakan sentuhan
setiap pandangan pada setiap laki laki yang kehilangan angin
pada malam berlarut sepi
biarlah kau lontarkan kepalsuan jika memang selera kita berbeda
memaknakan malam yang tak selesai kita tempuh
tapi paling tidak kearifan selalu berawalan dari pelajaran
bahwa keprihatinan cahaya ragamu justru ketika kita
saling menipu sebelum semuanya terlalu panjang
untuk bicara tentang malam yang selalu kelam

bilik lagu 22 desember 2008

JELITA

jejak siapakah yang meninggalkan aroma
jika dipastikan wanita jangan pikirkan bahwa aku lelaki dusta
yakinilah ibu selalu lahir dari kisah kisah jejak zamannya
kalaupun anak tetangga telah menghakimi bahwa hidup mesti seputih kanvas
seorang pelukis justru menggabar wanita salechah yang tak pernah dibayangkan
dari semula harapan salalu mencari dermaga yang ia bangun dengan keringat
sebelum semua berbatas muara
kegagagalan selalu tak pernah jujur mengungkap pasal pasal cinta secara pasti
hatimu hatiku menyimpan sebatas lirik lagu yang kau pilihlan untukku
untuk kemudian siapapun tak terlarang senandung lagu lagu
pilihan berdua tanpa terasa gelas telah kering
fajar menyentak jam berdering tapi malah dengan seberat kelelahan
membuatmu baru berbaring lupa mencatata buku harian
yang tak pernah hilang walau kau malas untuk menggoresnya
ah Jelita wanita yang menyimpan rencana untuk disebut Ibu
bagi waktu yang senagaja terluntakan

bilik lagu 22 desember 2008

Malam

•21 Desember 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

malam menguliti diri
terbelit di antara perempatan jalan
lampu pun padam
bingung mencari arah jalan
malam pun menggenapi kesepiannya

tegal, 2008

Museum Kota

•18 Desember 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Museum Kota

ada yang lenyap dalam kisah lama yang sudah tidak terbaca
di mana perginya rumah ibu praja
tempat mulainya jajaran kerukunan para tetangga
sementara di pusaran kota simpang empat jalan raya
di situ tampak tembok-tembok berlumut terbaca kusam
di antara jajaran rumah-rumah embun menyapa
dalam kristal-kristal tajam menyulang
sujadh jadi rimbakah hutan–hutan beton
dengan cakar besinya yang angkuh
memadati jajaran kota menghitung atap-atapnya
bagai nurani yang ditinggal matahari
seperti masa silam, nisan meninggal sejuta cermin kusam
dibalut kabut dari simpang siur kendaraan-kendaraan
beringas melibas bangunan-bangunan tua
semua suka perubahan dan pembangunan
lalu berontakkah kita jika musnah replika-replika tua
sementara orang-orang menghimpun pertanyaan demi pertanyaaan
yang tak pernah menyatu pada muara yang digali nenek moyangnya
kematian sering terbit kembali bagai cerita hati
yang menawarkan kehidupan
betapa pentingnya menghargai dekor dekor kota tua
jika tak ingin anak anak kehilangan bapaknya
yang pernah membuka jalan dan menimbun harta bagi anak cucunya
apakah ada yang menangis ketika kota hancur ditimbun kebodohan
tak terbaca masa silam, yang hada hanya pusat perbelanjaan
kota merana kehilangan wajahnya
kota menderita kehilangan potretnya
nenek pun gagal bercerita pada cucunya

stasiun besar tegal, 2005

Tarian Topeng Jalanan

lelaki berlari mencari pijak sendiri
ditinggal harapan ditekan suara bersahutan
di dadanya berkecamuk dalam layar pagi
mengais-ngais roti sisa kaum politisi
gagal menghitung arah angin
yang tak lelah di pusaran tahun
dibentur-bentur kebutuhan yang melambung
nuranipun pergi meninggalkan elegi suci
di kota tua yang sepi orang-orang bersembunyi
di balik puisi duniawi sembari menjual janji-janji basi
dalam diampun kata-kata berlompatan
mencari jejak bijak sambil memainkan tarian topeng jalanan
dalam irama kembang api
di siang hari melengking gema suara kecapi
antara senja dan dini hari
matahari enggan menyahut dalam kabut
ketika para badut saling berebut
roti dana negeri dalam agenda raja-raja kota
ini sidang apa tarik tambang
yang bisa dikompromikan

mimbar penyair, 2005

Membaca Nafas Chairil

jalanan bertabur kerikil
utarakan tabir, nafas-nafas perburuan
menggenang terasa anyir dihirupnya
aroma busukpun terusung pada sungai
yang dirawat bermilyar rupiah tapi tak bebas dari limbah
siapa yang menawarkan pengarungan rahasia
dalam rapat rapat gelap memuntahkan lumpur hitam
serupa orasi yang sama indahnya
dengan tawar nemawar barang pada pasar pasar fiktif naif
begitulah nafas nafas Chairil terbaca menggigil
dilanda bencana yang tak terbaca berita
menjadi komoditi politik antara subsidi dan kosmetik
orang orang bengong menonton genangan limbah
di sungai kebanggaan orang orang kota
menghanyutkan slogan slogan reformasi
yang dikibarkan 6 tahun yang lalu
dalam pandangan lusuh berlepotan limbah logam
yang hilang harumnya
entah matahari mana memanggangnya
termakan jani di meja makan sendiri

chairil answer
sma ikhsaniyah, 2005

CHESA

•12 Desember 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

CHESA
Bagi : May di lorong Malam

Bulan mozaik
menggoreskan lirik-lirik biru
Chesa engkaukah itu ,nyanyikan lagu syahdu
Menenggelamkam malam yang kosong, mengorbankan segumpal hati
demi kesetaraan yang ditawarkan sinyal sinyal televisi

desemberpun lewat begitu saja tanpa sapaan mesra
sementara seribu senja menemanimu di simpang jalan
kuasakan harga diri dalam bungkus- bungkus basa-basi
dimana Chesa sembunyikan hati atau ketakberdayaan
yang dininabobokan meja meja seminar sebatas investasi harga jual,
tetapi tetapi chesa tetap saja marginal
tak pernah berubah membagi-bagi malam
ibarat situs-situs maya dengan lengan dan paha berbinar
tubuh yang lumpuhkan Raja sepanjang malam

tetapi Chesa adalah es just tak terkalahlan segarnya
dengan Jhoni Walker,Bier Hitam dan cocacola
jalan bebas hambatan yang melintaskan Atribut atribut peradaban
dan lobi-lobi transaksi, Begitu indah dalam susunan mozaik kehidupan
Sepotong apel, seiris strawbery atau sesegar lechee kalengan
tanpa mampu menyingkirkan senyum manis Chesa
pada setiap potongan lagu lagu raja
tangan halusnya seperti titah Sang Ratu
yang ingin dicumbu sepanjang waktu
lantaran seribu senja tengah mengisyaratkan malam
begitu gelap pekat tanpa seberkas cahaya

tetapi Chesa tetap ucapkan selamat pagi
tanpa prasangka setulus hati
jika doa saja tak ada, tak lagi bisa berharap apa-apa
Chesa memang tangan zaman
Dengan jutaan kemungkinan
Sedang diperjuangkan

Januari 2008

Matahari Dan Boneka

bumi yang dilindungi anginpun
tak pernah menampik cahaya karena tahu
bumi adalah panggung pentas boneka – boneka
tapi bukan pohon – pohon, tapi bukan hewan – hewan
karena tak dibekali fantasi dan fikiran
betapa kearifan daun – daun begitu santun
mengucapkan selamat datang kepada sang cahaya
hewan – hewanpun menyantap lahap daun – daun
agar mereka tahu, begitu besarnya kearifan matahari
begitulah pohon-pohon dan hewan – hewan bicara tentang matahari
tetapi tak jarang setia menghitung peristiwa itu

kearifan dikhianati, matahari didzolimi meski setiap pagi
tak henti menyapa buana, boneka-bonekapun leluasa bergaya
begitulah watak dan jiwa boneka-boneka dilasoh dalangnya
keperkasannya kadang membuat boneka – boneka
menjadi keras kepala angkuh dan sombong,
karena tak mau meniru karakter daun – daun hijau
apa lagi belajar pada hewan – hewan
yang mengolah daun – daun menjadi lebih bergizi
dan menaikan derajat daun – daun
tidak seperti boneka – boneka lebih suka menjelma jadi
bunga kertas pada Vas menghias meja – meja persidangan
bunga – bunga kertas itu, memang bergaya tapi tak punya aura
hanya warna dan ujudnya dalam keindahan – keindahan palsu
celakanya di hotel – hotel berbintang di pemukiman orang – orang
suka memajang menjadi hiasan karena tak repot untuk menyiram
menolak pot – pot bunga bertanah dan berakar tetapi gemar celoteh
dan bicara hingga urung berlari mengejar matahari
sengaja membiarkan luput dari tangan – tangan nurani
yang bebal dan angkuh miskin –hati
tak membuat perubahan, tak seperti daun – daun dan hewan – hewan
begitu bijaksana mengejawantah matahari
yang merubah cahaya menjadi natura basah
bagi orang – orang yang menangkap hidayah
tak seperti boneka – boneka bergerak saja susah
apalagi menangkap impian yang indah
karena sesungguhnya boneka tak punya rasa
tak punya jiwa dan siapakah sebenarnya boneka.

Tegal,Juli 2008

Baronang Siang

Baronang siang
lewat terminal lutut begitu pegal
karena trotoar direbut bermacam penjual
bukan pula begitu jauhnya puncak dari terminal
muskil ditempuh jalan kaki ,meski romantisme liburan
berjalan – jalan dengan asesories tas punggung , ketuaan
tak ada tempat untuk mengurung diri apalagi berapologi
kota – kota persinggahan tak lebih dari catatan kenangan demi kenangan
meneruskan perjalanan, sama halnya mencari arah tujuan kemana langkah
mesti dilanjutkan, taxi taxi kota berseliweran
menawarkan jasa perjalanan mempercepat ke arah tujuan,
oh bogor bukan tegal kesohor dengan sate kambing
fantasi keramahan jalan raya puncak berpaling
hilang sesaat, teryata bogor bukan bandung
atau kota – kota besar di jawa tengah
terperengah juga karena bogor
bukan kota solo apalagi semarang
baronang siang lewat sudah, senja datang terasa begitu kerontang
jalan raya puncakpun terus meraung – meraung , tapi apa lacur di kata
setelah masuk ke area kawasan resort
sopir berkilah masih untung anda kebawa ke puncak raya
dibalut keramahan tak selamanya menjadi kelegaan
apalagi kenyamanan ternyata taxi tak lagi jujur
tak seramah sapaan lembut gadis cianjur
tak seperti pria lilin yang maskulin
pengalaman lebih sering diawali jadi korban penipuan
sebelum pada akhirnya orang sering bikin kecewa
dari janjinya, betapapun mengorbankan keramahan adat sekalipun
kita memang sering terjebak dan tersesat
karena keterbatasan selalu jadi ketergantungan
seperti trotoar yang dipadati pedagang
sang pejalan kakipun tersisih hatinya perih,
maka lensa hatipun lebih jernih,
memotret sebuah kota,
maka kita bilang tipu daya ada dimana – mana
sebelum pada akhirnya kita terus bertanya – tanya
apapun jawabannya

Terminal Baronang, Siang, juli 2008

Hello world!

•11 Desember 2008 • 1 Komentar

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!